Exit Interview: Pertanyaan yang Sering Diajukan dan Cara Menjawabnya
Bagi sebagian karyawan, keputusan untuk meninggalkan tempat kerja merupakan tahapan penting yang menandai perubahan dalam perjalanan karier mereka, sebuah momen yang kerap disertai beragam perasaan, mulai dari antusiasme terhadap peluang baru hingga rasa sentimental terhadap tempat lama. Sebelum masa kerja benar-benar berakhir, biasanya terdapat satu proses terakhir yang perlu diikuti, yaitu exit interview.
Exit interview adalah proses wawancara yang dilakukan oleh HR atau pihak manajemen kepada karyawan yang akan resign, dengan tujuan memahami pengalaman mereka selama bekerja. Proses ini tidak hanya penting bagi perusahaan untuk melakukan evaluasi, tetapi juga memberi kesempatan bagi karyawan untuk menyampaikan pandangan mereka dengan jujur dan profesional.
Setelah memahami peran pentingnya, mari bahas lebih dalam tentang apa sebenarnya tujuan utama dari exit interview bagi kedua belah pihak.
Tujuan Utama Exit Interview bagi Karyawan dan Perusahaan
Exit interview bukan sekadar formalitas administratif sebelum keluar dari perusahaan. Di balik percakapan yang tampak sederhana, wawancara ini memiliki fungsi strategis bagi kedua belah pihak.
Bagi perusahaan, hasil exit interview menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem kerja, meningkatkan kesejahteraan karyawan, dan memperkuat retensi tenaga kerja di masa depan. Sementara bagi karyawan, ini merupakan kesempatan untuk memberikan masukan yang mungkin tidak sempat disampaikan selama masih aktif bekerja.
Dengan berbagi pengalaman secara konstruktif, karyawan turut berkontribusi pada perbaikan budaya kerja bagi rekan-rekan yang akan datang. Untuk mencapai hasil yang maksimal, tentu penting untuk mengetahui seperti apa jenis pertanyaan yang biasanya muncul dalam sesi exit interview.
Pertanyaan yang Sering Diajukan dalam Exit Interview
Biasanya, HR akan menyiapkan sejumlah pertanyaan standar untuk menggali pengalaman dan pandangan karyawan secara menyeluruh. Beberapa pertanyaan umum mencakup alasan meninggalkan perusahaan, kesan selama bekerja di organisasi, serta sejauh mana pelatihan dan dukungan yang diberikan perusahaan dirasa cukup.
Selain itu, karyawan mungkin juga diminta memberi saran atau masukan terkait lingkungan kerja, sistem manajemen, atau hal-hal yang bisa ditingkatkan. Berikut ini adalah contoh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan saat exit interview dikutip dari SEEK (2025):
- Mengapa Anda memutuskan untuk mengundurkan diri?
- Menurut Anda, hal apa yang dapat kami tingkatkan lagi?
- Apa yang ditawarkan oleh perusahaan atau pekerjaan baru Anda yang membuat Anda memutuskan untuk keluar dari perusahaan ini?
- Apakah Anda merasa bahwa gaji Anda terlalu kecil di sini?
- Apakah Anda menghadapi masalah ketika bekerja dengan manajer Anda?
- Apakah ketika bekerja dulu Anda mengikuti perkembangan terbaru perusahaan atau seringkali merasa bahwa Anda tidak mendapat informasi tersebut?
- Apakah Anda mendapat pelatihan yang cukup untuk dapat melakukan pekerjaan Anda dengan baik?
- Apa yang paling Anda sukai dari pekerjaan Anda? Apa yang paling tidak disukai?
- Jika Anda memiliki kenalan yang sedang mencari kerja, apakah Anda akan merekomendasikan perusahaan ini? Jika tidak, mengapa?
- Apakah ada hal lain yang ingin Anda sampaikan kepada Saya?
Melalui pertanyaan-pertanyaan ini, perusahaan berusaha mencari pola tertentu yang dapat menjadi acuan dalam perbaikan internal. Namun, mengetahui pertanyaan saja tidak cukup, karena yang lebih penting adalah bagaimana menjawabnya dengan tepat agar tetap profesional dan berkesan positif.
Cara Menjawab Exit Interview dengan Bijak dan Profesional
.jpg)
Saat menjawab pertanyaan dalam exit interview, kuncinya adalah keseimbangan antara kejujuran dan profesionalitas. Sampaikan pendapat dengan jelas, tanpa menyalahkan pihak lain atau melibatkan emosi negatif.
Jika ingin mengemukakan kritik, bungkuslah dalam bentuk masukan yang konstruktif, misalnya dengan memberikan contoh situasi dan saran perbaikan. Hindari nada defensif atau menyindir, karena tujuan utama exit interview adalah memberi umpan balik yang bermanfaat, bukan membuka konflik baru.
Dengan pendekatan yang tenang dan objektif, karyawan dapat meninggalkan kesan positif yang akan berguna bila suatu hari ingin berkolaborasi kembali dengan perusahaan tersebut.
Meski demikian, penting juga bagi karyawan untuk memahami bahwa mereka tetap memiliki hak dalam proses ini, termasuk untuk tidak menjawab pertanyaan tertentu.
Batasan dan Hak Karyawan dalam Exit Interview
Tidak semua orang merasa nyaman membahas pengalaman kerjanya secara terbuka, terutama jika ada konflik atau pengalaman kurang menyenangkan. Dalam exit interview, karyawan berhak menolak mengikuti sesi ini, atau memilih tidak menjawab pertanyaan tertentu yang dirasa sensitif.
Sikap ini sepenuhnya sah dan tidak akan memengaruhi status resign secara administratif. Namun, bila memungkinkan, tetap disarankan untuk berpartisipasi, karena kesempatan ini bisa menjadi jalan untuk menutup hubungan kerja secara elegan dan profesional. Selain manfaat bagi individu, proses ini juga memiliki dampak besar bagi perusahaan dalam memperbaiki sistem dan budaya kerjanya ke depan.
Pergi dengan Elegan dan Tinggalkan Kesan Positif
Exit interview mungkin menjadi percakapan terakhir seorang karyawan dengan perusahaannya, tetapi dampaknya bisa bertahan lama. Dengan menjawab secara terbuka, bijak, dan profesional, karyawan tidak hanya menjaga reputasinya sendiri, tetapi juga berkontribusi pada perkembangan tempat kerja yang lebih baik.
Di sisi lain, perusahaan yang mendengarkan dengan empati akan memperoleh wawasan berharga untuk memperbaiki diri. Pada akhirnya, perpisahan yang baik mencerminkan kedewasaan profesional kedua pihak, karena meninggalkan pekerjaan bukan akhir dari perjalanan karier, melainkan awal dari babak baru yang lebih matang dan bermakna.
Informasi lebih lanjut:
Aqilla Sekar Ningrum Prastyo
Corporate Communication
PT Mitra Utama Madani
corcom@mum.co.id