Apa yang Harus Ditanyakan Saat Ditanya: ‘Ada yang Ingin Ditanyakan tentang Perusahaan?’ di Sesi Interview

Dalam proses wawancara kerja, ada satu momen yang sering dianggap sepele, padahal justru krusial dalam menentukan kesan akhir seorang kandidat. Momen itu adalah ketika pewawancara bertanya, “Do you have any questions for us?” atau “Ada pertanyaan untuk kami?”, ini adalah sebuah kesempatan yang sesungguhnya bukan hanya formalitas, melainkan ajang untuk menunjukkan minat, kesiapan, dan pemikiran kritis terhadap perusahaan yang dilamar. 

Cara kandidat merespons pertanyaan ini dapat memberikan gambaran seberapa dalam mereka memahami peran yang diinginkan dan seberapa besar ketertarikan mereka terhadap perusahaan. Untuk bisa memanfaatkannya dengan baik, dibutuhkan strategi dan persiapan yang matang.

1. Persiapkan Pertanyaan Sebelum Wawancara

Langkah pertama yang disarankan adalah menyiapkan pertanyaan jauh sebelum sesi wawancara berlangsung. Kandidat disarankan untuk meneliti profil perusahaan, memahami visi-misi, serta membaca deskripsi pekerjaan secara saksama. Dari proses riset tersebut, biasanya akan muncul pertanyaan yang relevan dan bernilai. 

Dengan datang ke wawancara membawa daftar pertanyaan yang telah dipikirkan matang-matang, Anda tidak hanya terlihat siap, tetapi juga menunjukkan rasa ingin tahu yang tulus terhadap posisi tersebut. Setelah memiliki daftar itu, tahap berikutnya adalah memilih pertanyaan mana yang paling bernilai untuk disampaikan.

2. Pilih Pertanyaan Terbaik dan Gunakan Waktu Secara Efektif

Waktu wawancara sering kali terbatas, sehingga tidak semua pertanyaan bisa diajukan. Karena itu, penting untuk memprioritaskan dua atau tiga pertanyaan terbaik dari daftar yang telah dibuat. Pertanyaan yang sudah dipilih sebaiknya menunjukkan pandangan strategis dan fokus pada hal-hal yang benar-benar ingin diketahui, seperti tanggung jawab inti posisi atau arah pengembangan tim. 

Dengan demikian, pewawancara akan melihat bahwa Anda mampu berpikir selektif dan menghargai waktu mereka. Untuk memperdalam percakapan, bisa memanfaatkan jenis pertanyaan tertentu yang memancing diskusi lebih lanjut.

3. Gunakan Pertanyaan Terbuka untuk Membangun Diskusi

Alih-alih menanyakan pertanyaan yang bisa dijawab dengan “ya” atau “tidak”, gunakan pertanyaan terbuka yang memungkinkan pewawancara menjelaskan lebih banyak. Misalnya, alih-alih bertanya “Apakah perusahaan ini memiliki program pelatihan?”, ubahlah menjadi “Bagaimana perusahaan membantu karyawan mengembangkan keterampilan mereka?” 

Pertanyaan seperti ini tidak hanya memberikan informasi yang jelas, tetapi juga memperlihatkan kemampuan berpikir analitis dan rasa ingin tahu yang profesional. Untuk membantu memulai, beberapa contoh pertanyaan yang baik bisa dipertimbangkan.

Tentang Posisi

  • Apa tanggung jawab utama dan prioritas dari posisi ini?
  • Seperti apa gambaran kegiatan sehari-hari atau mingguan dalam peran ini?
  • Tantangan terbesar apa yang biasanya dihadapi oleh seseorang di posisi ini?
  • Apakah posisi ini baru dibuka, atau penggantian dari orang sebelumnya?
  • Dengan siapa saya akan paling sering bekerja dalam tim ini?
  • Menurut Anda, seperti apa tipe orang yang akan berhasil dan berkembang di posisi ini?

Tentang Perusahaan

  • Apa tujuan utama perusahaan tahun ini secara keseluruhan?
  • Bagaimana Anda menggambarkan budaya perusahaan atau budaya kerja tim di sini?
  • Dari sisi budaya kerja, hal apa yang menurut Anda dilakukan perusahaan ini lebih baik dibanding perusahaan lain?
  • Menurut Anda, hal apa yang paling disukai sebagian besar karyawan dari bekerja di perusahaan ini?

Tentang Pengembangan Karier

  • Kesempatan pengembangan karier seperti apa yang tersedia di perusahaan ini?
  • Bagaimana perusahaan mendukung pelatihan dan pengembangan berkelanjutan bagi karyawannya?
  • Seperti apa jalur karier menuju posisi kepemimpinan di perusahaan ini?
  • Pelatihan seperti apa yang biasanya diberikan saat mulai bekerja?
  • Posisi apa yang biasanya menjadi langkah berikutnya setelah peran ini?

4. Hindari Pertanyaan yang Kurang Tepat di Tahap Awal

Pada wawancara tahap awal, disarankan untuk menahan diri dari pertanyaan mengenai gaji, tunjangan, atau kebijakan cuti. Topik-topik tersebut lebih tepat dibahas pada tahap negosiasi atau setelah kamu menerima penawaran kerja. Selain itu, hindari juga menanyakan hal-hal yang bersifat rahasia atau terlalu detail mengenai strategi internal perusahaan. 

Dengan menjaga profesionalisme dalam memilih topik, kamu akan terlihat lebih fokus pada nilai dan kontribusi yang bisa Anda berikan. Namun, bagaimana jika semua pertanyaan yang sudah disiapkan ternyata sudah dijawab lebih dulu oleh pewawancara?

5. Jika Semua Pertanyaan Sudah Terjawab, Tunjukkan Fleksibilitas

Jika ternyata pertanyaan sudah terjawab selama wawancara, Anda tetap bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan meminta elaborasi lebih lanjut. Misalnya, jika pewawancara sudah menjelaskan tentang budaya kerja, Anda bisa menambahkan, “Boleh saya tahu contoh konkret bagaimana perusahaan menerapkan budaya tersebut dalam keseharian tim?” Langkah seperti ini menunjukkan kemampuan improvisasi dan rasa ingin tahu yang tulus. Sikap fleksibel dan adaptif seperti ini justru bisa menjadi nilai tambah di mata pewawancara.

Jadikan Pertanyaan sebagai Cerminan Diri Profesionalmu

Pada akhirnya, pertanyaan “Ada pertanyaan untuk kami?” bukan sekadar formalitas, tetapi bagian penting dari komunikasi dua arah dalam wawancara kerja. Pertanyaan yang tepat tidak hanya membantu Anda memahami perusahaan lebih dalam, tetapi juga memperlihatkan profesionalisme, persiapan, dan keseriusan terhadap posisi yang dilamar. 

Dengan memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya, Anda tidak hanya menjawab pertanyaan pewawancara, tapi juga sedang memberi kesan terakhir yang bisa membedakan Anda dari kandidat lain.

 

Informasi lebih lanjut:

Aqilla Sekar Ningrum Prastyo

Corporate Communication

PT Mitra Utama Madani

corcom@mum.co.id

www.mum.co.id